Oleh: Yuli Jullaila
Kisah ini pertama kali ditemukan dalam majalah anak-anak, yaitu majalah Bobo. Cerita ini fiktif, hanya saja kita sedang berlatih untuk meningkatkan kemampuan mengambil pelajaran dari setiap cerita. Berikut ceritanya.
Di sebuah kampung, seorang lelaki paruh baya yang miskin hidupnya memiliki cita-cita mulia, ingin mendidik anaknya agar memiliki ilmu dalam hidup. Akhirnya, ia membawa sang putra menuju tempat yang dikabarkan memiliki perguruan dengan guru yang tinggi keilmuannya.
Lelaki sederhana itu menemui sang guru, meminta kesediaannya untuk mendidik anak laki-lakinya. Ia menyampaikan kalau ia tidak memiliki harta untuk membayar pendidik sang anak. Tetapi ia menjamin anaknya mampu membantu kehidupan sang guru.
“Anak saya mampu mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, bersih-bersih, dan kau dapat memintanya melakukan apa saja, anak saya mampu wahai tuan guru!” ucap lelaki itu, memelas. Dengan berat hati, sang guru menerima anak bapak itu sebagai muridnya.
Benar saja, anak itu sejak pagi hari sudah sibuk dengan pekerjaan dapurnya, menanak nasi, membersihkan pakaian dan rumah. Ia begitu cekatan melakukan pekerjaannya. Selesai mengerjakan tugas, ia menghadap sang guru,”tuan guru, kapan saya bisa menerima pelajaran darimu?” pinta sang murid. Guru menjanjikan dilain waktu.
Tiap hari terulang begitu, anak itu bekerja dan menagih janji sang guru. Hari berganti pekan, pekan merayap menjadi bulan. Sang anak belum juga mendapatkan pelajaran pertamanya. Iri hatinya melihat murid-murid lain membuatnya tetap semangat mengerjakan tugasnya. Inilah harga dari ketiadaan hartanya.
Hingga suatu hari, sang guru yang terus didesak untuk memberikan ilmu akhirnya memberikan persyaratan bagi sang murid agar dapat mengikuti pelajaran.
“aku ingin kamu membakar 9 biji nangka ini, jika kamu mampu membakarnya dengan baik dan lengkap, kamu bisa mengikuti pelajaran besok pagi!” janji sang guru. Riang tidak terkira dalam hati sang anak, ia tidak menyangka persyaratannya semudah itu.
Tugas rumah apa yang tidak bisa ia lakukan, tentu ini adalah tugas yang mudah. Ia pun menuju tungku, dengan riang membakar 9 biji nangka yang diserahkan gurunya. Terbayang dalam benaknya, besok pagi akan mulai belajar bersama murid-murid lainnya.
Mendekati matangnya, sebuah biji nangka meletus, loncat dari arang. Ia gusar, mencari ke setiap sudut dapur. Ia tidak menemukan. badannya lemas, harapannya hilang seketika. Ia menghadap sang guru dengan wajah tertunduk, menyerahkan sisa biji nangka panggangannya seraya memohon maaf.
Guru pun menghitung biji nangka yang diterimanya. “Sembilan biji nangka, hilang satu sisa delapan! Kau gagal, pergi dari perguruanku ini!” ucap sang guru murka, suara tinggi sang guru mengagetkan sang murid. Tidak pernah disangka akibatnya adalah pengusiran, bukan kesempatan baru. “tapi guru…” anak laki-laki itu tidak sempat memelas meminta kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Pupus sudah.
Ia mengemasi barang-barangnya, menyusuri perkampungan meninggalkan perguruan yang tidak sekali pun ia sempat menimba ilmu darinya. Sepanjang perjalanan ia mengulang-ulang perkataan sang guru. “Sembilan biji nangka, hilang satu sisa delapan” itu seperti wirid baginya, hingga ia memasuki hutan. Ia terus mengulang perkataan sang guru, ia pikir barrangkali ungkapan itu adalah pelajaran pertamanya.
Hingga ia dikejutkan oleh cahaya terang dari sebuah pohon besar di tengah hutan. Rasa penasaran membuatnya mendekati pohon untuk memastikan. “harta karun!” ucapnya kaget. Ia tidak menyangka menemukan harta karun. Disinilah hidupnya akan mulai berubah.
Harta karun itu menjadikannya saudagar kaya, berkedudukan tinggi. Sifat dermawannya terkenal ke penjuru negeri. Hingga berita tentangnya sampai ke telinga sang guru. Guru tidak percaya murid yang diusirnya mendapatkan kedudukan yang tinggi. Hingga akhirnya, sang guru memutuskan untuk mengunjungi sang murid untuk memastikan.
Murid yang dulu diusirnya ternyata memang telah berubah nasibnya, sang guru disambut dan dimuliakan tanpa terlihat dendam pada raut wajahnya. Ditengah perbincangan itulah, sang guru berbisik, “bagaimana caranya hingga kau mendapatkan kedudukan dan kekayaan ini muridku?” tanya sang guru pelan.
“aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapapun, ini pertama kalinya guru. Ini adalah berkat dirimu. Dulu saat kau memintaku pergi meninggalkan perguruan, aku mengulang-ulang perkataanmu “Sembilan biji Nangka, hilang satu sisa delapan” hingga aku memasuki hutan dan menemukan harta karun!” pungkas sang murid. Ia menceritakan ciri-ciri pohon yang ditemui itu. Sang guru menyimak dengan seksama dan takjub.
Sang guru kemudian pulang dari istana muridnya. Rasa penasarannya dengan kisah muridnya membuat dia ingin mencoba pengalaman sang murid. Barangkali nasib mujur ia temui juga. Ia menyusuri kampung menuju hutan yang diceritakan, sepanjang perjalanan ia mengulang kalimat “Sembilan biji nangka, hilang satu sisa delapan”.
Benar saja, ia menemukan pohon besar yang berlubang pangkalnya. Pohon itu mirip dengan cerita sang murid, dengan penasaran ia memasuki pohon itu. Betapa kaget sang guru, pohon itu tiba-tiba tertutup dan dengan ketakutan ia memanggil-manggil nama muridnya “tokek, tokek, tokek, tokek!” tidak ada yang mendengar suara sang guru, ia terkurung disana. Ternyata nama muridnya adalah Tokek, itulah cerita asal muasal suara tokek.
Saudaraku, pembaca yang baik, dari cerita fiktif ini, kita bisa mengambil pelajaran yang diperankan oleh sang ayah yang miskin dan anaknya yang sederhana. Ada tiga kunci keberhasilan dalam hidupnya. Ketiga kunci inilah yang digunakan oleh orang-orang sukses di seluruh dunia. Jika kita mampu menerapkan tiga kunci ini, maka keberhasilan itu tidak mungkin tidak bisa kita capai.
Kunci pertama, jangan pernah meremehkan kebaikan. Kunci kedua, jangan mudah mengeluh dan kunci ketiga jangan suka menyalahkan keadaan.
Jangan pernah meremehkan kebaikan meski kecil, karena kebaikan itu memiliki saudara, ia akan memanggil saudara-saudaranya yang lain. Memberikan senyuman, menolong orang menyebrang jalan, membuang sampah pada tempatnya, menghabiskan makanan, menghilangkan duri di jalan, mengucapkan terima kasih saat menerima bantuan dan banyak lagi kebaikan-kebaikan kecil lainnya.
Kebaikan-kebaikan itu akan hadir di masa depan dalam kemudahan hidup yang kita rasakan. Orang-orang baik, kesempatan dan keadaan yang membuat kita mampu melakukan kebaikan akan hadir. Yakinlah, kebaikan kecil itu akan bertumbuh. Jangan pernah meremehkannya.
Sebaliknya, keburukan itu, juga memiliki saudara. Ia akan memanggil saudara-saudaranya yang lain. Satu kebohongan, akan melahirkan seribu kebohongan lainnya, itulah contohnya.
Mengeluh dan menyalahkan keadaan tidak akan merubah takdir yang telah terjadi. Orang-orang yang berhasil selalu berpikir bagaimana menyikapi masalah dan keadaan dirinya? Bagaimana mereka bertindak, keputusan apa yang bisa dibuat untuk memperbaiki keadaan? Sibuk mencari solusi akan melahirkan ketenangan dan optimisme dalam hidup.
Bukankah ketenganan adalah hal yang kita cari dalam hidup ini? Tanpa ketenangan, tidak mungkin kemenangan ditorehkan. Tentu sukses setiap orang berbeda-beda, jadi jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain. Bandingkanlah diri kita hari ini, dengan diri kita sendiri di hari sebelumnya, kita bertumbu atau tidak?
Ada banyak pelajaran lain yang dapat diambil dari cerita ini. Itu tidak akan mudah dilakukan jika kita tidak membiasakan diri berlatih mencari hikmah dalam setiap kejadian. Ayo temukan hikmah lain dari cerita ini, bagikan pada orang-orang tersayang, agar kebaikan itu menyebar hingga menutupi keburukan-keburukan.